Berbagai potensi di Pulau Lombok mulai dari alam, tradisi budaya, kuliner dan kegiatan masyarakat bisa dikembangkan dalam konsep wellness tourism atau wisata kebugaran.
Hal itu mengemuka dari percakapan media ini dengan Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Dr. Halus Mandala, dan akademisi kampus setempat, Dr. Mawar Junita, Selasa (14/10).
Potensi yang cukup besar dikarenakan konsep pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan pengalaman wisatawan ini, memiliki pasar sangat besar terutama dari Eropa.
Dosen STP Mataram, Dr. Mawar mengatakan wellness tourism sudah lama dikembangkan di negara maju. Sedangkan di Indonesia baru ditetapkan di Yogyakarta, Bali dan Solo pada tahun 2019.
Wellness tourism lebih mengunggulkan produk lokal seperti tradisi dan kuliner lokal dengan mempertimbangkan berbagai aspek pemulihan fisik seperti kesehatan, kejiwaan, psikologis dan spiritual,.
“Wellness ini turunan dari medical tourism namun dengan skup yang lebih luas, ” lanjut Mawar.
Sementara ini, kata dia, Bali menawarkan budaya dan tradisi, Solo dengan minuman tradisional seperti jamu dan berbagai jenis kesenian seperti tari- tarian. Bagaimana dengan Lombok?
KUALITAS WISATAWAN
“Hasil penelitian saya menyebutkan ketika wisatawan ke Lombok dia sudah masuk quality tourism dengan market menengah ke atas. Hal itu tidak hanya bagi turis mancanegara melainkan juga bagi wisatawan nusantara, ” paparnya. .
Dari aspek prilakunya, lanjut Mawar, wisatawan yang datang ke Lombok sejak hari pertama memilih makanan tradisional tanpa penyedap khas di desa. Mereka umumnya bertujuan mencari ketenangan diri. Pun ingin merasakan minuman khas yang ada di tempat itu.
“Mereka juga akan mencoba paket pijat tradisional dan semua yang berhubungan dengan adat istiadat,” cetusnya.
Artinya, wisatawan ini merasa tidak perlu tidur di hotel mewah melainkan sudah bisa tinggal di rumah masyarakat sepanjang lingkungannya bersih dan nyaman.
“Beberapa destinasi wisata sudah menerapkan wellness tourism seperti Senaru Lombok Utara namun tidak mengetahui bahwa itu wellness,” ujar Mawar.
Ia menyontohkan ketika wisatawan turun dari Rinjani, mereka kemudian mencari pijat tradisional. Para tukang pijat bahkan sudah berkolaborasi dengan hotel yang ada di Senaru untuk pengadaan jasa pijat.
POTENSI KEARIFAN LOKAL
“Keistimewaan welness dibandingkan yang lain karena lebih pada penekanan kearifan lokal. Tidak perlu mewah tetapi bagaimana menjual paket kearifan lokalnya dengan tujuan kebugaran, ” jelas Mawar.
Para wisatawan bukan hanya berwisata melainkan memiliki kegiatan fisik yang bisa dilakukan seperti yoga, meditasi, olah raga bersepeda keliling desa bahkan jogging. Selain itu mengajarkan wisatawan memasak makanan dan minuman khas desa.
“Masyarakat sudah melakukannya ketika pandemi lalu namun belum dibuat menjadi satu kesatuan paket, ” cetus Mawar.
Hal yang dibutuhkan adalah kerjasama pentahelix antara pemerintah daerah, pebisnis pariwisata seperti hotel dan restoran, akademisi, masyarakat, dan media. Lima unsur ini harus selalu bekerjasama karena satu unsur tidak bisa berdiri sendiri.

KESIAPAN SDM
Ketua STP Mataram, Dr. Halus Mandala, mengemukakan bahwa yang belum siap dalam konsep ini adalah memediasi kebutuhan untuk membangun wellness tourism.
“Wisata kebugaran memerlukan kesiapan SDM. Harus ada pelatihan untuk memenuhi standar yang ditetapkan di obyek wisata itu. Misalnya SDM pijat dilatih agar standarnya dipenuhi, ” ujarnya.
Kata dia, berbagai faktor pendukung perlu dikondisikan dengan standar tertentu seperti SDM, makanan yang merujuk dengan higienitas dan prosesnya yang dipersiapkan dengan baik.
“Sebelum sampai pada pembuatan paket. perlu dipersiapkan SDM-nya dan lakukan pemetaan destinasi, ” kata Halus seraya menambahkan bahwa potensi yang sudah ada mesti distandarkan oleh pemerintah dengan berbagai kebijakannya.
“Potensi wisatawannya, dilihat dari pendaki gunung saja sudah luar biasa. Tinggal bagaimana menyampaikan kepada wisatawan, ” katanya. “Ini salah satu cara mempersiapkan pariwisata untuk memperpanjang lama tinggal.” Ian








