“Ada yang buka jam tiga pagi, ” kata seorang ibu asal Praya sambil membukakan pintu gerbang sebuah rumah kosan.
Senin (16/6), deru kendaraan silih berganti di jalan raya seakan membelah pagi. Sebelumnya, azan subuh berkumandang dari berbagai arah, menyisakan pesan yang menyala.
Pagi di Maluk, Sumbawa Barat, cahaya siluet berhias kesibukan. Seorang ibu menggelar dagangan, lemper bakar isian daging ayam sisit. Pedagang lain menggelar jajanan donat. Sejumlah toko membuka pintu mengiringi semangat para pedagang kecil itu. Kesibukan laindari biasa dibandingkan kota lain di NTB.
Seorang pekerja tambang duduk di atas meja bambu tua sambil nyeruput kopi, sesekali mengunyah lemper kenyal dan hangat. Ia kena shif malam yang bisa membuatnya istirahat pagi hari di pagi hari.
“Baru pulang kerja, ” kata pria berseraga pekerja tambang itu.
Tidak nampak lelah di wajahnya. Sekiranya 1,3 tahun waktunya banting tulang di Maluk dihabiskan untuk bekerja di tambang tanpa sekali pun izin pulang kampung ke Jawa Barat. Dalam usia yang relatif tua, kesibukan membuatnya lupa berumah tangga.
Maluk tumbuh dengan penduduk yang heterogen dari berbagai daerah. Para pekerja itu mengelola pengalamannya di ibukota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat itu. Biasanya mereka diutus sejumlah perusahaan dengan sistem kontrak walau terdapat pula pekerja dari penduduk setempat.
Kehidupan yang cukup menggairahkan nampak dari lalu lintas kendaraan Mataram-Maluk atau sebaliknya. Salah satu armada travel mengoperasikan 13 minibus setiap hari tujuan Mataram-Sekongkang dan sebaliknya. Ini belum armada lain yang membuat Maluk berdinamika.
Kenyataan itu menambah distribusi angkutan kapal Fery Lombok – Sumbawa, pun sebaliknya setip hari, kadang penuh sesak. Terlebih pada Sabtu dan Minggu. Waktu 24 jam terus berdetak di areal yang dulu sepi.
Salah satu keistimewaan kecamatan ini adalah keamanannya yang cukup terjaga. Rumah sepi tetap aman tanpa secuil pun pencurian. Warga masyarakat di desa sekitar seperti Desa Maluk, Desa Pasir Putih, Desa Bukit Daman, dan Desa Matun, memikirkan pekerjaan dan menjauhi prilaku tercela seperti mengambil barang yang bukan haknya.
Hal ini tentu menambah pesona alam pantainya yang menawan ditengah sikap ramah penduduk yang berasal dari berbagai daerah.
Sedangkan harga makanan tidak jauh berbeda dengan Kota Mataram. Namun, kontrakan kamar kos lumayan tinggi, yakni kisaran Rp 1,7 juta dengan AC dan Rp 1 juta tanpa AC sebulan.
Tak sulit bagi pekerja tambang untuk memenuhi kebutuhan itu. Hal ini sejalan dengan pendapatan yang cukup tinggi di kawasan tambang dengan mobilitas penduduk yang tidak lagi sepiĀ itu. rr








